Home » Uncategorized » Ritel dan Minimarket Islami: Angin Segar Masyarakat Madani

Ritel dan Minimarket Islami: Angin Segar Masyarakat Madani

Ritel dan Minimarket Islami: Angin Segar Masyarakat Madani

 

Ritel dan minimarket modern lekat dengan sejumlah kasus yang berkaitan dengannya. Kasus yang dimaksud, terkait dengan berbagai kekecewaan masyarakat sebagai konsumennya. Lihat saja bagaimana masyarakat mengeluh terkait kasir minimarket yang korupsi kecil-kecilan, tidak sesuainya harga barang yang dipajang dengan harga di kasir dan ketidakjelasan uang kembalian yang disumbangkan melalui minimarket kemana peruntukan diberikannya. Bahkan, hingga pada kejengahan masyarakat dengan minimarket yang menjual rokok dan minuman keras, padahal berada di lingkungan pendidikan seperti kampus dan dekat tempat umum seperti masjid.

Minimarket yang diijinkan berdiri sering tidak diatur jaraknya dengan fasilitas publik seperti pasar dan pertokoan sehingga justru mematikan usaha kecil masyarakat karena persaingan dagang yang tidak sehat. Di lingkungan kampus dan kawasan yang banyak pelajar dan mahasiswa berkos dan berasrama bahkan minimarket tidak hanya satu dua dapat ditemui di sepanjang jalannya. Parahnya kehadiran minimarket tersebut memudahkan para pelajar  dan mahasiswa ini mendapatkan barang berupa rokok dan minuman keras yang mengandung alkohol. Memang rokok adalah barang yang di negeri ini paling mudah dijumpai di toko dan warung hingga pedagang asongan dijual rokok berbagai bentuk dan harga. Akan tetapi, bahaya rokok itu sendiri lebih besar pengaruhnya daripada kenikmatan menghisap rokok yang sesaat. Di kota Bogor baru-baru ini setiap minimarket dilarang untuk memajang rokok lantaran paparan asap rokok di tempat umum sudah terlalu meresahkan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu hamil.

Di kawasan dominan pelajar dan mahasiswa minimarket mendapatkan posisi yang sangat menguntungkan. Banyaknya pelajar dan mahasiswa membutuhkan barang-barang kebutuhan sehari-harinya sering menjadikan minimarket sebagai pilihan utama. Masalahnya adalah minimarket juga menjual minuman beralkohol rendah berbagai merek dan harga. Meskipun beralkohol rendah tetapi tetap memabukkan dan tentunya hal ini tidak pantas dikonsumsi oleh generasi bangsa meskipun dengan alasan untuk mengurangi stress dan pergaulan. Maka sudah saatnya masyarakat memilih minimarket yang humanis dan tidak bersistem perdagangan kapitalis. Minimarket yang humanis berarti menghidupi masyarakat bukan mencari keuntungan semata. Minimarket yang humanis pastilah akan menghindari penjualan barang-barang dan pelayanan yang kapitalis, atau lebih jelasnya menghindari riba.

Minimarket islami hadir sebagai cerminan perbaikan ketimpangan di masyarakat. Di Jabodetabek dan kota besar lainnya minimarket berwawasan islami mulai hadir dan bertumbuh meskipun belum mampu mengalahkan dominasi minimarket kapital pada umumnya. Minimarket islami ini meskipun bertumbuh dari usaha-usaha kreatif lokal anak bangsa bukan dari perusahaan besar tetapi dengan sistem yang dibangunnya mampu menarik banyak perhatian khalayak.

Minimarket islami selain menjual barang kebutuhan bersumber dari produk lokal dan tentunya hallal juga bernuansa ibadah bagi konsumen, penjual dan karyawannya. Tengok saja ada minimarket islami yang bersumber dari wakaf, ada yang menggunakan 30 % keuntungannya untuk disedekahkan kepada anak-anak yatim piatu, kaum dhuafa dan kaum berkebutuhan khusus penyandang disabilitas. Hebatnya lagi jumlah sedekah konsumen atas belanja yang dilakukan tersebut tercetak dalam struk belanjaan. Sungguh minimarket islami ini memudahkan masyarakat dalam bersedekah.

Selain faktor produk minimarket islami yang terjamin dari segi kehallalannya, minimarket islami juga menanamkan kedisiplinan dalam beribadah karyawannya. Selalu ada peringatan untuk shalat dan kewajiban bagi karyawannya untuk  taat beribadah merupakan teladan untuk pelaku dagang yang jujur dan berintegritas baik. Sayangnya pertumbuhan minimarket islami ini tidak segencar dan secepat minimarket pada umumnya. Selain faktor masyarakat yang terlebih dahulu menyukai berbelanja di minimarket kapital karena kemudahan transaksi apapun juga disebabkan karena minimarket kapital sangat mudah mendapatkan ijin operasional dan pendirian padahal dikaji dari lokasi pendirian saja sudah melanggar peraturan. Bahkan belakangan ini dinas pemerintah daerah sering disorot karena ditemukan banyak minimarket berdiri tidak mengantongi ijin pendirian dan ijin operasional sebagai minimarket tetapi ijin pendirian usaha lainnya.

Minimarket islami dapat dijadikan sebagai upaya pendidikan generasi bangsa yang ideal. Mengapa demikian? Jawabannya tentunya karena minimarket islami bernuansa ibadah ini dapat dijadikan model bagi setiap lembaga pendidikan untuk mengajarkan pola perdagangan dan ekonomi islam. Di setiap pondok pesantren dan kampus-kampus perlu kiranya mendirikan minimarket yang tidak hanya menyediakan barang kebutuhan peserta didiknya tetapi juga masyarakat yang bersumber dari produksi hingga pengemasan yang baik dan hallal, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat termarjinalkan. Tanpa meninggalkan unsur pendapatan keuntungan untuk kelangsungan usaha dan kearifan lokal daerah masing-masing. Hal terpentingnya adalah mendidik masyarakat untuk tetap peduli akan sosial ekonomi yang berpihak kepada keadilan dan kesejahteraan rakyat bukan kepada hedonisme dan konsumerisme dari sistem kapitalisme dagang yang saat ini sudah seperti sistem global perdagangan dan ekonomi.

Sistem ekonomi islam dalam minimarket islami dalam arus sistem ekonomi global kiranya akan terus dapat bertahan seiiring kesadaran masyarakat akan kondisi sosialnya. Sudah banyak produk lokal anak negeri ini yang tidak mempunyai tempat di negeri sendiri. Di setiap minimarket pada umumnya hanya produk-produk dari perusahaan besar dari luar negeri, meskipun lokasi pabrik produksinya berada di Indonesia. Ciri ekonomi islam adalah memelihara norma-norma akhlak, melalui minimarket islami yang semoga tetap terjaga kekonsistenan menjaga ibadah sebagai bagian dari kegiatan operasionalnya akan tercipta keseimbangan dalam masyarakat. Tidak hanya individu pemodal minimarket islami yang mendapatkan keuntungan tetapi juga masyarakat dapat berbahagia dan merasakan manfaat untuk kemaslahatannya.

Keuntungan-keuntungan hadirnya ritel dan minimarket islami antara lain bagi masyarakat pelaku usaha dapat memilih model kemitraan yang sesuai baginya dengan tawaran keuntungan dari omzet cukup baik. Minimarket islami memang mungkin tidak memberikan keuntungan instan yang besar dibandingkan minimarket pada umumnya karena tidak berasumsi untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya tetapi bergerak untuk kesejahteraan umat.

Minimarket islami bahkan memfasilitasi pemodalan pendirian secara komunitas tidak secara perorangan. Jikalau suatu komunitas terdiri atas seratus orang misalnya maka cukup dengan modal empat juta setiap orangnya dapat mendirikan ritel minimarket islami ini. Selain itu dari nilai sedekah setiap pembelanjaan sudah pasti berdampak besar bagi masyarakat utamanya bagi kaum termarjinalkan. Selain itu kemandirian akan produk hallal dalam negeri yang disediakan minimarket islami dapat menjadi penghidup ketahanan usaha lokal akan globalisasi.

Minimarket-minimarket islami sayangnya masih sedikit yang memiliki pusat distribusi  barang. Dominasi dua ritel besar Alfamaret dan Indomaret yang hingga berbagai penjuru tanah air memang tampak puluhan langkah lebih maju dalam persaingan dagang. Mereka tidak hanya memiliki pusat distribusi barang yang kuat, tetapi juga minimarket-minimarket yang masuk di setiap desa dan kelurahan dengan jarak yang tidak terbilang jauh. Masyarakat pun sudah banyak terlanjur terseret arus globalisasi sehingga pola dan gaya hidupnya sering tidak mengindahkan kondisi sosial sekitarnya yang kekurangan. Semoga saja dengan minimarket islami yang memberikan harapan kebangkitan ekonomi kerakyatan ini cepat atau lambat dapat menjadikan masyarakat yang madani. Masyarakat yang beradab dan sejahtera dengan pola hidup kemanusiaan, mensejahterakan sesama.