Home » Uncategorized » Regresi Negatif Minimarket dan Pasar Tradisional

Regresi Negatif Minimarket dan Pasar Tradisional

Regresi Negatif Minimarket dan Pasar Tradisional

 

Pertumbuhan minimarket terus bertambah setiap tahunnya, sehingga menimbulkan keresahan pada masyarakat khususnya masyarakat pemerhati pasar tradisional. Artikel di bawah ini memaparkan bagaimana pertumbuhan minimarket yang kian pesat dengan studi kasus pada kota Semarang.

Berdasarkan data rekapitulasi Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah jumlah penduduk di Jawa Tengah tahun 2013 adalah 33,26 juta jiwa. Angkatan kerja di Jawa Tengah adalah sebesar 16,99 juta jiwa dengan tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 70,72 persen, sektor perdagangan menyerap tenaga kerja yang cukup besar yaitu sebanyak 22,46 persen. Di balik pertumbuhan penduduk yang cukup besar tersebut terdapat umur penduduk yang masuk ke dalam kategori umur produktif atau usia kerja. Sesuai dengan ketentuan di Indonesia yang termasuk ke dalam kategori umur produktif atau usia kerja adalah penduduk yang berumur 16-64 tahun. Di dalam mata pencaharian atau pekerjaan yang dijalani oleh masyarakat tersebut dapat dibagi menjadi dua sektor yaitu sektor formal dan informal seperti minimarket, supermarket, dan hypermarket.

Sektor formal adalah pekerjaan yang dijalani oleh masyarakat yang memiliki ikatan dinas atau pekerjaan yang dilakukan memiliki waktu kerja yang tetap dan teratur dengan pendaptan yang di dapat oleh para pekerjanya bersifat tetap. Sektor informal adalah pekerjaan yang dijalani oleh masyarakat tanpa memiliki ikatan dinas tertentu, serta pendapatan yang didapat bersifat fluktuatif namun jam kerjanya bersifat bebas tergantung pekerjaan yang dijalani oleh seseorang tersebut. Pekerjaan bidang informal  merupakan salah satu usaha yangmenghasilkan keuntungan secara langsung bagi pelaku usaha.

Pada umumnya lapangan usaha yang dijalani oleh masyarakat di Jawa Tengah memiliki 8 sektor yang di antaranya adalah sektor pertanian, pertambangan, industri, konstruksi, perdagangan, transportasi, keuangan, dan jasa. Dari sektor-sektor tersebut nantinya akan menjadi penyumbang PDRB ( Produk Domestik Regional Bruto) di sebuah wilayah, dan tingkat PDRB akan menjadi gambaran kemajuan ekonomi wilayah tersebut. Minimarket dan supermarket merupakan contoh dari salah satu sektor yang disebutkan.

Jawa Tengah merupakan provinsi yang mempunyai penyumbang nilai PDRB yang cukup besar di Indonesia. Sektor yang cukup besar menyumbang PDRB di jawa tengah adalah sektor Perdagangan, Hotel, dan Pariwisata. Pada tabel dibawah ini ditunjukkan Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Triwulan I Tahun 2014 (miliar rupiah).

NoLapangan UsahaAtas Dasar

Harga Berlaku

Atas Dasar

Harga

Konstan

Laju

Pertumbuhan

(%)

1.Pertanian           Perkebunan,

peternakan,  kehutanan,  dan perikanan

32 265,410 330,5-3,6
2.Pertambangan                 dan

Penggalian

1 590,3633,83,9
3.Industri Pengolahan55 837,918 769,13,2
4.Listrik, Gas dan Air Bersih1 747,2504,14,1
5.Konstruksi10 102,13 455,60,9
6.Perdagangan,    Hotel    dan

Restoran

34 401,312 951,13,9
7.Pengangkutan                 dan

Komunikasi

10 097,903 146,12,1
8.Keuangan,  Real  estat  dan

Jasa Persh.

6 380,72 395,02,9
9.Jasa-jasa17 892,25 946,71,5
PDRB170 315,0058 132,21,8

Berdasarkan Tabel di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang berdasarkan PDRB ( Produk Domestik Regional Bruto) penyumbang tertinggi diperoleh dari industri pengolahan. Berbeda dengan sektor pertanian yang mengalami laju pertumbuhan -3,6% disebabkan oleh faktor inflasi harga, serta perubahan iklim yang membuat tidak tentunya hasil pertanian. Berdasarkan atas harga berlaku industri pengolahan menyumbang 55.837 miliar rupiah, atas harga konstan 18.769 miliar rupiah dengan laju pertumbuhan 3,2 persen pada tahun 2014. Namun sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dapat kita lihat memperoleh penyumbang PDRB yang cukup besar yaitu peringkat 2 di Jawa Tengah dengan nilai atas Harga Berlaku 34.401,3 miliar rupiah, Harga Konstan 12.951 miliar rupiah, dengan laju pertumbuhan 3,9 persen. Hal tersebut membuktikan bahwa sektor perdagangan merupakan sektor mayoritas yang digemari oleh masyarakat Jawa Tengah.

Kota Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah 373,67 m2 serta pada tahun 2013 kepadatan penduduk di Kota Semarang mencapai 1.572.505 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk 0,83 persen. Kota Semarang terbagi atas 2 wilayah yaitu wilayah Semarang atas dan wilayah Semarang bawah. Mengingat Kota Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah maka seringkali dijadikan lahan bisnis oleh para investor baik asing maupun investor lokal. Kota Semarang berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak, Kendal, Salatiga. Kepadatan penduduk di Semarang juga dipenuhi dari penduduk yang “melaju” atau bekerja di Semarang tetapi tempat tinggal mereka tetap pada wilayahnya.

Mengingat kepadatan penduduk di Kota Semarang yang terus meningkat tersebut maka kebutuhan sehari-hari pun menjadi faktor penting. Hal tersebut membuat para investor terus mengembangkan usahanya khususnya dalam bidang penyedia kebutuhan sehari-hari yang bersifat modern seperti minimarket modern bahkan supermarket.

Melihat hal tersebut, eksistensi warung tradisional maupun toko kelontong yang berdiri sendiri dan berbasis ekonomi kerakyatan akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan munculnya pasar modern yang di nilai cukup potensial oleh para pebisnis ritel. Ritel modern yang mengalami pertumbuhan cukup pesat saat ini adalah minimarket dengan konsep waralaba atau franchise.

Pada era modern kini pertumbuhan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart sangat pesat di persebaran wilayah di  Indonesia. Toko-toko modern hampir dapat ditemui di setiap wilayah-wilayah daerah tertentu dan bahkan saling berhampitan antar perusahaan yang membelakanginya.

Telah umum diketahui bahwa setiap tahunnya minimarket seperti Indomaret maupun Alfamart terus bertambah jumlahnya. Bahkan setiap tahunnya tidak pernah berkurang jumlahnya, namun di balik data tersebut tidak semua kepemilikan dimiliki sepenuhnya oleh perusahaan ada sekitar 50% di antaranya adalah gerai tersebut milik pewaralaba (http://www.aprindo.net/buku_tamu_gbook_main.html).

Melihat keadaan pertumbuhan toko modern yang di kuasai oleh minimarket, jelas menimbulkan efek atau dampak bagi pengusaha- pengusaha lokal di daerah yang dijamuri oleh minimarket tersebut dalam hal ini yang akan terkena dampak langsung dari pertumbuhan gerai baik Indomaret maupun Alfamart adalah pengusaha toko kelontong.

Di Kota Semarang sendiri yang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah kini minimarket sudah menjamur. Menjamurnya minimarket terjadi karena berbagai hal diantaranya adalah karena penduduk yang semakin meningkat di Kota Semarang itu sendiri, seiring dengan pertumbuhan penduduk tersebut maka kebutuhan sehari-hari pun turut  meningkat.

Jumlah minimarket yang ada di Kota Semarang tersebut setiap tahunnya selalu meningkat. Menurut data hingga bulan September 2014 dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang, dan BPPT Kota Semarang diperoleh jumlah minimarket modern yang terbanyak berada di daerah Pedurungan (66), berikutnya kecamatan Banyumanik memiliki jumlah minimarket terbanyak kedua yaitu (65). Selain itu kawasan Semarang Barat pun menjadi lokasi pembangunan minimarket modern yang cukup banyak, berdasarkan data hingga bulan September tahun 2014 terdapat (65) minimarket modern yang tersebar di kawasan Semarang Barat.

Dari paparan di atas bisa diketahui bahwa menjamurnya minimarket di setiap kota khususnya kota semarang, merupakan suatu masalah serius yang harus diatasi oleh pemerintah daerah pada setiap kota. Penelitian-penelitian lebih lanjut harus dilakukan supaya pengaturan kota maupun keadaan kondusif kota terpenuhi. Hal diatas merupakan data jumlah minimarket di kota Semarang pada tahun 2014, bayangkan jika pertumbuhan minimarket terus terjadi, apa yang akan terjadi pada keadaan pasar tradisional pada 10 atau 15 tahun mendatang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca dan khususnya pemerintah daerah supaya bisa mengatasi masalah serius ini.