Home / Perkembangan Minimarket Menurut Agama

Perkembangan Minimarket Menurut Agama

Perkembangan Minimarket Menurut Agama

Minimarket di Indonesia mulai beroperasi rata-rata sekitaran tahun 1980 an akhir, dan banyak perkembangan minimarket menurut agama. Penjualan barang-barang diatas rak minimarket tersebut semula beroperasi dengan sistem non waralaba. Namun sejak tahun 1994-1995, barulah sistem minimarket mulai menggunakan sistem waralaba. Di mana pemilik utama minimarket melakukan kerjasama dengan masyarakat pelaku bisnis ekonomi menengah ke atas. Waralaba menurut wikipedia adalah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir dengan pengwaralaba (franchisor), yang memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merk, nama, sistem, prosedur, dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalqm jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

Tersebutlah beberapa nama minimarket di Indonesia yang terus berkembang dan semakin marak, seperti Indomart, Alfamart dan Yomart. Sementara untuk sekelas supermarket ada Carefour, Super Indo, Giant, Hypermart, Lotte Mart dan lain-lain.

Semua minimarket dan supermarket ini memiliki pelanggannya masing-masing. Dan dalam rangka meningkatkan jumlah pelanggan, semua pasar moderen tersebut saling berlomba-lomba untuk memberikan promosi. Promosi yang mereka lakukan diantaranya dengan memberi diskon atau potongan harga dengan penempatan barang promosi diatas rak minimarket, rak supermarket yang semua pengunjung bisa melihat. Biasanya mereka melakukannya di momen-momen yang dianggap penting untuk melakukannya, seperti pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia, menjelang bulan Ramadhan dan sebagainya.

Yang pasti, semua pasar moderen tersebut saling berlomba-lomba dalam menarik perhatian konsumen. Salah satunya penataan rak minimarket supaya terkesan tidak monoton, selain itu penataan barang-barang yang sejenis di rak minimarket. Semuanya ingin mendapatkan pelanggan yang sebanyak-banyaknya. Selain memberikan diskon, terkadang pihak minimarket dan supermarket mengadakan bonus hadiah berupa barang atau cinderamata dengan logo khas masing-masing. Cukup menarik memang. Mungkin itulah salah satu sebabnya minimarket dan supermarket masih tetap bertahan diantara gempuran berbagai isu-isu global bermuatan politis dan negatif.

Keberadaan minimarket dan supermarket nyatanya sedikit banyak mampu menyerap tenaga kerja yang jumlahnya tidak sedikit. Ditambah lagi dengan jam operasi yang semula non stop 24 jam, pasar moderen ini menjadi salah satu tujuan masyarakat untuk berbelanja. Terutama sekali karena minimarket-minimarket banyak yang mengambil tempat di pusat keramaian seperti di dekat atau di areal fasilitas umum. Misalnya di dekat pasar, rumah sakit, SPBU dan sebagainya. Penempatan lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat disinyalir menjadi keuntungan bagi pihak pengelola.

Meski begitu, dengan berkembang pesatnya minimarket-minimarket tersebut selain mendatangkan kecemburuan bagi para pedagang tradisional, juga mengundang pelaku kejahatan. Omset cukup besar yang didapatkan oleh minimarket membuat para pelaku kejahatan, menjadikan tempat tersebut sebagai sasaran penjarahan atau perampokan.

Sudah sering kita dengar peristiwa-peristiwa perampokan yang terjadi di minimarket-minimarket yang memiliki jam operasi hingga 24 jam. Tidak sedikit kerugian yang dialami oleh pihak pengelola minimarket yang telah menjadi korban perampokan. Bahkan tidak sedikit pegawai yang menjadi korban kekerasan fisik dari para pelaku kejahatan tersebut. Para korban sulit untuk meminta pertolongan pada saat kejahatan sedang berlangsung karena para penjahat memilih waktu yang memungkinkan untuk melakukan aksinya, yaitu menjelang tengah malam atau dini hari. Dimana masyarakat tidak banyak melakukan aktivitas di luar rumah.

Oleh karena itu. Untuk mengantisipasi semakin maraknya aksi kejahatan yang terjadi, akhirnya jam operasi minimarket-minimarket tersebut diubah. Pihak pengelola dilarang meneruskan kegiatan operasionalnya hingga menjelang tengah malam. Semua minimarket diwajibkan untuk tutup sebelum pukul sepuluh malam waktu setempat. Kemudian pihak pengelola minimarket juga memasang CCTV untuk merekam semua aktivitas yang terjadi di dalam dan di luar ruang minimarket tersebut.

Menurut informasi dari artikel di Google, jumlah minimarket di Indonesia sudah mencapai puluhan ribu. Hal ini bisa kita buktikan dengan semakin mudahnya dalam menjangkau minimarket-minimarket terdekat. Hampir setiap sudut di kota-kota besar dan kecil, kita akan sangat mudah untuk menemukannya. Bahkan tidak jarang beberapa minimarket dengan nama perusahaan berbeda, berdiri berdampingan di suatu lokasi yang sama. Akibat kemudahan akses inilah yang menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk berbelanja di minimarket. Masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas biasanya baru melirik toko atau warung tradisional apabila di suatu daerah atau saat menempuh sebuah perjalanan jauh, mereka tidak bisa menemukan minimarket.

Sementara itu, bagaimanakah fenomena maraknya pasar moderen tersebut bila ditinjau dari segi agama? Apakah ada kaitan kemunculan minimarket-minimarket tersebut dengan kehidupan yang berjalan di muka bumi ini? Tentu saja ada. Bahkan kemunculan minimarket dan supermarket ternyata sudah diramalkan dan menjadi sebuah pertanda sesuatu. Apakah itu?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

“Tidak akan datang hari kiamat hingga muncul berbagai fitnah, banyaknya kebohongan dan berdekatannya pasar…  “(HR. Ahmad, 11/519)

Ternyata dengan semakin maraknya minimarket-minimarket, merupakan pertanda bahwa kiamat sudah semakin dekat. Hal ini merupakan ramalan dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam beberapa ribu tahun yang lalu. Tentunya bagi seorang muslim, ramalan dari manusia Agung seperti Beliau merupakan suatu berita tentang masa depan yang harus dipercaya kebenarannya. Ada pun tentang kapan terjadinya kiamat itu sendiri, tidak ada satu pun manusia yang tahu. Kita hanya bisa membaca ramalan-ramalan yang sudah disampaikan oleh nabi dan rasul-Nya yang terakhir tersebut dan bisa menjadi peringatan bagi seluruh manusia untuk mempersiapkan diri menghadapi kedatangab hari akhir tersebut.

Seorang Syaikh yang bernama Hamud At-Tuwaijiri mengatakan :

“Ada pun berdekatannya pasar, maka ada sebuah riwayat yang menjelaskannya di dalam hadits dha’if yaitu kelesuan pasar dan sedikitnya keuntungan. Yang jelas bahwa hal itu merupakan isyarat terhadap apa yang terjadi di zaman kita sekarang ini, berupa berdekatannya penduduk bumi.

Hal itu karena adanya transportasi udara atau darat, adanya alat-alat elektronik yang bisa mengirimkan suara-suara, seperti suara radio, telepon. Yang dengannya pasar-pasar di berbagai belahan dunia menjadi dekat. Maka tidaklah terjadi perubahan harga di suatu negara kecuali para pedagang (kebanyakan diantara mereka) di negeri-negeri lain mengetahuinya. Maka hal itu bisa menambah harga jika (di tempat lain pun bertambah), dan bisa menguranginya jika (di tempat lain pun) berkurang.

Para pedagang dengan kendaraannya pergi ke pasar-pasar di perkotaan yang perjalanan sebelumnya membutuhkan waktu beberapa hari, lalu dia memenuhi kebutuhannya di sana dan kembali hanya dalam waktu kurang dari satu hari.”

Berdekatannya pasar dilihat dari tiga sisi :

  1. Cepatnya berita terhadap apa yang akan terjadi di dalamnya berupa bertambah dan berkurangnya harga.
  2. Cepatnya perjalanan dari satu pasar ke pasar lain sekalipun jaraknya berjauhan.
  3. Persaingan harga antara yang satu dengan yang lainnya dan persaingan pedagang dalam menaikkan atau menurunkan harga barang.

Dari penjelasan di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa, fenomena maraknya perkembangan minimarket atau supermarket yang ada di negara kita khususnya dan di berbagai belahan dunia pada umumnya adalah sebuah ramalan yang sudah diprediksi sejak ribuan tahun yang lalu oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Kecanggihan dan kemudahan dalam mendapatkan akses terhadap kebutuhan sehari-hari, sejatinya merupakan puncak dari teknologi manusia yang semakin canggih dewasa ini. Dan kita harus ingat bahwa di dunia ini, semua ada masanya. Sesuatu yang mencapai puncak kejayaannya, pasti suatu saat akan menemui keruntuhan atau kemunduran. Itu sudah pasti dan merupakan suatu sunatullah, atau ketentuan dari Allah.