Home » Uncategorized » Antara Minimarket dan Pasar Tradisional

Antara Minimarket dan Pasar Tradisional

Antara Minimarket dan Pasar Tradisional

Dewasa ini, minimarket terus berkembang di beberapa daerah, terutama untuk daerah perkotaan yang ramai. Masyarakat perkotaan jadi lebih memilih berbelanja di minimarket dibandingkan dengan pasar tradisional. Rata-rata pasti alasannya adalah kebersihan dan kenyamanan. Lantas, adakah dampaknya bagi penjualan para pedagang di pasar tradisional? Apakah pemerintah memperhatikan hal ini dan ikut turun tangan? Mari kita simak.

Apa itu minimarket?

Secara kata, minimarket berasal dari kata “mini” dan “market”. Mini berarti “kecil” dan market berarti “pasar”. Jadi dapat diartikan minimarket adalah sebuah pasar kecil yang menjual berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari.

Dikutip dari wikipedia, toko kelontong atau minimarket adalah suatu toko kecil yang umumnya mudah diakses umum atau bersifat lokal. Minimarket semacam ini umunya berlokasi di jalan yang ramai, contohnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Stasiun Kereta Api. Minimarket sudah bersifat modern dan pembeli bisa mengambil sendiri barangnya. Rak di minimarket juga sudah lebih modern, tidak seperti rak di toko kelontong yang raknya dijadikan pembatas antara penjual dan pembeli.

Apakah Minimarket dan Supermarket sama?

Menurut Peraturan Presiden RI Nomor 112 Tahun 2007,: disebutkan bahwa format pasar swalayan dikategorikan sebagai berikut:

1. Minimarket
– Produk dijual: kebutuhan rumah tangga, makanan, dan kebutuhan harian.
– Jumlah produk: < 5000 item
– Luas gerai: maks. 400m²
– Area parkir: terbatas
– Potensi penjualan: maks. 200 juta
2. Supermarket
– Produk dijual: kebutuhan rumah tangga, makanan, dan kebutuhan harian.
– Jumlah produk: 5000-25000 item
– Luas gerai: maks. 400-500 m²
– Area parkir: sedang (memadai)
– Potensi penjualan: 200 juta – 10 miliar
3. Hypermarket
– Produk dijual: kebutuhan rumah tangga, makanan, kebutuhan harian, tekstil, fashion, furniture, dll.
– Jumlah produk: > 2500 item
– Luas gerai: > 500 m²
– Area parkir: sangat besar
– Potensi penjualan: 10 miliar

Minimarket dan supermarket merupakan dua hal berbeda. Hal ini dapat dilihat dari ukuran bangunannya. Supermarket memiliki ukuran yang lebih besar. Selain itu, supermarket lebih lengkap barangnya dibandingkan dengan minimarket. Sedangkan minimarket semacam ‘toko kelontong’ yang perbedaannya menerapkan sebuah sistem mesin kasir point of sale untuk penjualannya. Namun tidak selengkap dan sebesar sebuah supermarket. Minimarket menerapkan sistem swalayan, dimana pembeli mengambil sendiri barang yang ia butuhkan dari rak-rak minimarket dan membayarnya di meja kasir. Sistem ini mampu membantu agar pembeli tidak berhutang.

Selain minimarket dan supermarket, kini juga berkembang hypermarket. Hypermarket merupakan bentuk pasar modern yang sangat besar dan harganya lebih murah daripada supermarket, minimarket, dan pasar tradisional. Ini memungkinkan karena mereka memiliki barang dari produsen dengan jumlah besar daripada pesaingnya, tetapi menjualnya dalam bentuk satuan.

Minimarket Vs Pasar Tradisional

Menjamurnya minimarket di berbagai daerah mulai menyingkirkan pasar tradisional. Pasar tradisional tersisih karena masyarakat lebih memilih berbelanja di minimarket. Alasannya karena minimarket lebih nyaman dibanding pasar tradisional. Kini, minimarket pun lebih lengkap. Mereka banyak menjual barang kebutuhan sehari-hari. Bahkan tabung gas, token listrik, pulsa, tiket trasportasi, dan pembayaran bank dapat dilakukan di minimarket. Itulah sebabnya pembeli lari dari pasar tradisional ke minimarket karena lebih dijumpai barang yang mereka butuhkan dengan mudah dan tempat yang nyaman. Minimarket juga mudah ditemukan, apalagi ditempat yang ramaj. Hal ini sebetulnya lambat laun akan mematikan pasar tradisional dan pelaku usaha kecil menengah. .

Jika terus dibiarkan, akan muncul ketersinggungan dari para pedagang pasar tradisional, pemilik warung, dan LSM yang pro rakyat. Semakin jelaslah bahwa minimarket dan pasar tradisional terus bersaing. Apalagi bila minimarket didirikan dekat dengan pasar tradisional. Persaingan keduanya tentu semakin terasa. Lalu, apakah pemerintah ikut memperhatikan dan turun tangan?

Apa Tanggapan Pemerintah?

Pemerintah mengakui bahwa terjadi adanya persaingan tidak sehat dari minimarket dan pasar tradisional. Jarak minimarket dengan pasar tradisional yang cenderung berdekatan merupakan masalah yang dihadapi oleh pemerintah. Pemerintah telah mengatur hal ini pada Peraturan Presiden No. 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Bukan Pemerintah menolak keras atau melarang minimarket berdiri, tetapi hanya mengatur jarak yang diperbolehkan antara minimarket dan pasar tradisional.

Beberapa pemerintah daerah bahkan sudah memiliki perda untuk mengatur hal tersebut. Contonhnya Pemerintah Kabupaten Bandung yang sudah memiliki perda mengenai peraturan pasar tradisional dan pasar modern.

Pemerintah sebenarnya tinggal mengimplesentasikan peraturan daerah itu di lapangan agar peraturan tersebut bisa berjalan dengan baik. Pemerintah juga bisa melindungi para pedagang di pasar tradisional.

Mengapa jarak minimarket dan pasar tradisional saling berdekatan?

Minimarket terus berkembang. Bahkan ada yang jaraknya berdekatan dengan pasar tradisional. Dikutip dari sindonews.com, menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengakui, pembangunan pasar tradisional yang berdekatan dengan pasar tradisional akan menggerus daya saing pasar tradisional. Saat ini saja diperkirakan sudah 30 ribu unit gerai ritel modern di Indonesia. Dikeluarkannya penerbitan izin biasanya menjelang Pilkada atau pun setelah berakhirnya Pilkada. Hal itu biasannya untuk memuluskan jalan menuju Pilkada.

Namun demikian, jika jumlah minimarket tidak dibatasi pasti akan terjadi ketimpangan ekonomi. Harus ada solusi agar pemerataan ekonomi dapat tercipta dengan baik.

Lalu, Bisakah pasar tradisional bersaing dengan minimarket?

Sebenarnya pasar tradisional sangat sulit bersaing dengan minimarket. Itu karena minimarket memiliki jaringan perusahaan yang besar. Penyebab lainnya yaitu pasar tradisional tidak memiliki akses pada sumber barang dengan harga sama yang didapatkan minimarket. Minimarket mengambil barang langsung dari produsen. Berbeda dengan pasar tradisional yang mendapatkan barang dari berpindah-pindah tangan, sehingga harganya lebih mahal dibandingkan harga di minimarket. Minimarket juga memiliki modal besar yang lebih baik ketimbang para pedagang di pasar tradisional atau pemilik warung.

Selain itu, pasar tradisional memiliki kondisi tempat penjualan yang sangat tradisional dan serba terbatatas. Bahkan menurut sebagian orang pasar tradisional tempatnya tidak begitu nyaman karena becek dan bau. Sangat berbanding terbalik dengan minimarket yang tempatnya lebih nyaman dan memiliki fasilitas seperti pendingin ruangan sehingga pembeli betah berlama-lam di dalam minimarket.

Tapi, tidak menutup kemungkinan pasar tradisional bisa bersaing dengan minimarket. Setidaknya dengan bantuan pemerintah, mungkin pasar tradisional bisa dirubah menjadi lebih nyaman dan lebih baik untuk dikunjungi nantinya.

Minimarket dan pasar tradisional bisa saja bekerja sama dan menghilangkan persaingan tidak sehat antara keduanya. Pasar tradisional dapat mengambil sisi baik dari pasar modern atau minimarket. Sehingga pasar tradisional dapat mengubah dirinya menjadi lebih modern tapi tidak menghilangkan unsur tradisional pasar tersebut. Dengan begitu, persaingan dapat dihindari dan tidak ada yang perlu diresahkan ataupun dikhawatirkan. (Husnul/eMedia)